Sabtu, 08 April 2017

Pohon Andalas

 Buah dan daun pohon Andalas yang menyerupai Murbei

Pohon Andalas merupakan tanaman khas Sumatera Barat. Pohon dengan nama latin Morus macroura ini ditetapkan menjadi flora identitas bagi provinsi Sumatera Barat.
Pohon Andalas (Morus macroura) masih berkerabat dekat dengan pohon Murbei (Morus alba) yang biasa digunakan sebagai pakan ulat sutra (Bombyx mori). Tanaman yang disebut sebagai Himalayan Mulberry atau Sumatra Mulberry ini dalam bahasa daerah sering dinamai juga sebagai Kertau, Hole Tanduk, dan Andaleh. Sedangkan dalam bahasa ilmiah pohon yang menjadi maskot (flora identitas) Sumatera Barat ini dinamakan Morus macroura yang bersinonim dengan Morus laevigata.
Ditetapkannya pohon Andalas sebagai flora identitas Sumatera Barat mungkin tidak terlepas dari pemanfaatan kayu Andalas sebagai bahan pembangunan rumah adat di daerah Minangkabau. Sayangnya pohon ini mulai langka dan sulit ditemukan. Bahkan untuk memperoleh kayunya seringkali memerlukan perjalanan berhari-hari menuju lokasinya di hutan.


Diskripsi Pohon Andalas. Pohon Andalas mempunyai tinggi sekitar 40 meter dengan diameter batang mencapai 1 meter. Bentuk daun mirip daun murbai (Morus alba), seperti jantung namun permukaan daunnya sedikit kasar karena berbulu. Bagian tepi daunnya bergerigi. Tangkai daun maupun cabang Andalas juga berbulu, bulu-bulu tersebut bisa menyebabkan gatal-gatal pada kulit yang peka.
Buah Andalas pun mirip dengan buah murbai. Buahnya berbentuk majemuk, menggerombol berwarna hijau jika masih muda dan menjadi ungu kemerahan bila telah masak. Buahnya berair dan dapat dimakan dengan rasa asam-asam manis. Perbanyakan pohon ini bisa dengan cara stek.
Pohon Andalas (Morus macroura) tumbuh tersebar mulai dari India, China bagian selatan, Kamboja, Thailand, dan Indonesia. Di Indonesia tanaman ini hanya bisa ditemukan di Sumatera dan Jawa bagian barat.Habitat pohon Andalas terdapat di hutan-hutan dataran tinggi dengan curah hujan yang cukup banyak pada ketinggian antara 900-2.500 meter dpl.
Pohon yang ditetapkan sebagai tanaman khas (flora identitas) provinsi Sumatera barat ini terkenal sebagai kyu yang kuat, tahan serangga dan tidak mudah lekang oleh panas maupun lapuk oleh hujan. Oleh karenanya kayu Andalas sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan untuk rumah baik sebagai tiang, balok landasan rumah, papan dinding, maupun lantai. Selain itu kayunya juga kerap kali dipergunakan untuk pembuatan perabot rumah tangga.
Meskipun tidak termasuk dalam ‘daftar merah’ (red list) IUCN, tetapi di Indonesia (baik di Jawa maupun di Sumatera), tanaman ini mulai langka dan sulit ditemukan. Tentunya kita tidak menginginkan sebuah maskot provinsi akan menjadi punah.
Klasifikasi ilmiah: Kingdom: Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Dilleniidae; Ordo: Urticales; Famili: Moraceae; Genus: Morus; Spesies: Morus macroura Miq.

Burung Kuau Besar

 Burung kuau raja atau kuau besar

Burung Kuau Raja atau Kuau Besar Si Raksasa dengan Seratus Mata. Lho?. Burung kuau raja selain berukuran sangat besar pun memiliki bulu bermotif bundaran-bundaran menyerupai mata berwarna cerah dan berbintik-bintik keabu-abuan, apalagi ketika bulu ekornya dikembangkan. Karena itulah Carolus Linnaeus kemudian memberikan nama ilmiah Argusianus argus kepada burung kuau raja. Argus sendiri merupakan sosok raksasa bermata seratus dalam mitologi Yunani.
Burung kuau besar (kuau raja) ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Sumatera Barat mendampingi pohon Andalas (Morus macroura) yang ditetapkan sebagai flora identitas. Sayangnya burung berukuran besar dan berbulu indah ini termasuk salah satu burung langka di Indonesia meskipun IUCN Redlist ‘hanya’ memasukkannya dalam kategori Near Threatened.
Burung kuau raja atau kuau besar yang mempunyai nama latin Argusianus argus ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Great Argus. Sedangkan dalam bahasa lokal, burung yang di Indonesia mendiami pulau Sumatera dan Kalimantan ini selain dikenal sebagai kuau juga kerap dipanggil ‘kuang’.
Diskripsi Fisik dan Perilaku. Burung kuau raja (Argusianus argus) berukuran besar. Burung jantan dewasa dapat mempunyai panjang hingga 2 meter (kepala sampai ekor), sedangkan burung kuau besar betina hanya sekitar 75-an cm dengan ekor dan bulu sayap lebih pendek. Berat badannya mampu mencapai 10 kg lebih. Selain bulatan-bulan menyerupai mata pada bulunya, ciri khas lainnya burung ini adalah terdapatnya dua helai bulu ekor yang panjangnya hingga 1 meter.


Bulu tubuh kuau raja berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran-bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan. Kulit di sekitar kepala dan leher pada burung jantan biasanya tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kebiruan. Pada bagian belakang kepala burung betina terdapat bulu jambul yang lembut. Paruh berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji.
Suara burung kuau raja sangat keras sehingga dapat terdengar dari jarak lebih dari satu mil. Kicauan burung ini berbunyi “ku-wau”. Mungkin lantaran itu kemudian burung ini mendapatkan nama ‘kuau’.
Kuau raja hidup di permukaan tanah. Walaupun burung maskot Sumatera Barat mini bisa terbang jarak pendek, namun kemampuan mereka untuk berlari sangat baik. Selain itu, burung kuau raja memiliki penciuman dan pendengaran yang sangat tajam ini menjadikannya sukar ditangkap. Membuat sarang di permukaan tanah. Dan makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut dan berbagai jenis serangga.
Salah satu yang unik adalah saat menjelang kawin. Seperti burung merak, Kuau jantan akan memamerkan tarian di depan kuau betina dengan mengembangkan bulu sayap dan ekor. Bulu ekor akan mengembang seperti kipas dengan dua bulu ekor terpanjang tegak menjulang di tengah-tengah ‘kipas raksasa’ tersebut. Perlahan-lahan ‘kipas raksasa’ tersebut ditarik ke depan sehingga tubuh, kepala dan kakinya tersembunyi di balik bulu. Kemudian kipas itu digetarkan sehingga menimbulkan suara gemerisik.
Persebaran, Habitat, dan Konservasi. Burung kuau raja atau kuau besar (Argusianus argus) hidup tersebar di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan), Thailand, Myanmar, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Habitat yang disukainya adalah hutan primer di dataran rendah hingga ketinggian 1.500 meter dpl.
Meskipun dalam status konservasi yang dikeluarkan oleh IUCN Redlist, burung kuau besar ‘hanya dianggap’ Near Threatened (hampir terancam punah) namun di Indonesia burung raksasa ini mulai jarang dijumpai. Burung kuau raja juga terdaftar sebagai CITES Apendiks II. Dan di Indonesia, selain ditetapkan sebagai maskot (fauna identitas) provinsi Sumatera Barat, burung kuau raja pun termasuk burung yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999.
Ancaman terhadap kelestarian burung ini terutama disebabkan oleh rusaknya habitat akibat kerusakan hutan, kebakaran hutan, dan alih fungsi hutan. Selain itu perburuan yang dilakukan untuk mendapatkan daging dan bulu ataupun untuk diperdagangkan ikut menjadi ancaman bagi raksasa besar dengan seratus mata ini.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Galliformes; Famili: Phasianidae; Genus: Argusianus; Spesies: Argusianus argus.

Sumber:  https://alamendah.org/2012/04/07/burung-kuau-raja-si-raksasa-seratus-mata/

Daun Sirih



Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain[1]. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dikunyah bersama gambir, pinang, tembakau dan kapur. Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan pembentukan squamous cell carcinoma yang bersifat malignan. Juga kapurnya mebuat pengerutan gusi (periodentitis) yang dapat membuat gigi tanggal, walaupun daun sirihnya yang mengandung antiseptik pencegah gigi berlubang.[2]
Sirih digunakan sebagai tanaman obat (fitofarmaka); sangat berperan dalam kehidupan dan berbagai upacara adat rumpun Melayu.
Di Indonesia, sirih merupakan flora khas provinsi Kepulauan Riau. Masyarakat Kepulauan Riau sangat menjunjung tinggi budaya upacara makan sirih khususnya saat upacara penyambutan tamu dan menggunakan sirih sebagai obat berbagai jenis penyakit. Walaupun demikian tanaman sirih banyak dijumpai di seluruh Indonesia, dimanfaatkan atau hanya sebagai tanaman hias.

Ciri-ciri batang, daun, dan bunga/buah

 Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 – 8 cm dan lebar 2 – 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 – 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 – 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

Kandungan dan manfaat

 Minyak atsiri dari daun sirih mengandung minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi dan fungisida, anti jamur. Sirih berkhasiat menghilangkan bau badan yang ditimbulkan bakteri dan cendawan. Daun sirih juga bersifat menahan perdarahan, menyembuhkan luka pada kulit, dan gangguan saluran pencernaan. Selain itu juga bersifat mengerutkan, mengeluarkan dahak, meluruhkan ludah, hemostatik, dan menghentikan perdarahan. Biasanya untuk obat hidung berdarah, dipakai 2 lembar daun segar Piper betle, dicuci, digulung kemudian dimasukkan ke dalam lubang hidung. Selain itu, kandungan bahan aktif fenol dan kavikol daun sirih hutan juga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama penghisap[3]

Bunga Kenanga

 Bunga Kenanga

Kenanga (Cananga odorata) merupakan bunga khas (flora identitas) provinsi Sumatera Utara. Tanaman Kenanga mempunyai bunga yang beraroma wangi dan harum sehingga disuling menjadi minyak wangi. Bunga Kenanga (Cananga odorata) juga sering digunakan dalam upacara-upacara adat.
Di daerah di Indonesia bunga Kenanga dikenal berbagai nama seperti Kananga (Sunda, Madura), Kenanga, Wangsa (Jawa), Kenanga, Semanga, Selanga (Aceh), Selanga (Gayo), Nuarai (Simalungun), Ngana-ngana (Nias), Ananga, Kananga (Minangkabau).
Selain itu dikenal juga sebagai Sandat Kanaga, Sandat Wanga (Bali), Adat (Sasak), Anga (Bima), Tenanga (Sawu), Bunga Kaeik (Roti), Amok, Wungurer, Kumpul, Pum-pum, Wal im puket, Luit (Minahasa), Kananga (Bugis), Wanggulita (Gorontalo) Sapalin, Kupa Apale, Sukalone, Kupa Aitetui, Kupa Aiouno, Sipaniune, Kupaleuo (Seram), Sapalen, Walotol (Ulias), Sapalen, Kumbang (Buru), dan Kananga Wangi (Ambon).
Dalam bahasa Inggris bunga Kenanga dikenal sebagai Ylang-ylang. Dan dalam bahasa latin (ilmiah) flora identitas provinsi Sumatera Utara ini dinamai Cananga odorata.
Pohon kenanga terdiri atas dua macam. Yang pertama adalah kenanga biasa (Cananga odorata macrophylla) yang berbentuk pohon dengan tinggi mencapai 20 meter. Kedua, kenanga perdu (Cananga odorata fruticosa) yang biasa ditanama sebagai tanaman hias dengan tinggi maksimal 3 meter.
Diskripsi Kenanga (Cananga odorata). Pohon kenanga mempunyai pohon yang besar dengan diameter batang mencapai 70 cm dan tinggi hingga 20 meter. Batangnya membulat dan mudah patah terutama saat masih muda. Daun kenanga tunggal berbentuk bulat telur, dengan pangkal daun mirip jantung dan ujung daun runcing. Panjang daun mencapai 10 – 23 cm, dan lebar 4,5 – 14 cm.
Bunga Kenanga
Bunga Kenanga
Bunga kenanga muncul di batang pohon atau ranting bagian atas dengan susunan bunga yang spesifik menyerupai bintang. Sebuah bunga kenanga terdiri dari 6 lembar daun dengan mahkota berwarna kuning serta dilengkapi 3 lembar daun berwarna hijau. Susunan bunga tersebut majemuk dengan garpu-garpu. Bunga kenanga beraroma harum dan khas. Buah Kenanga berbentuk bulat telur terbalik, sepanjang dua cm, berdaging tebal, berwarna hijau ketika masih muda, dan menjadi hitam setelah tua.
Tanaman Kenanga (Cananga odorata) yang ditetapkan menjadi flora identitas Sumatera Utara tumbuh tersebar dari Thailand hingga Australia bagian Utara, juga di India dan pulau-pulau di Pasifik sampai ke Hawaii. Di Indonesia, tanaman kenanga tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kenanga dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl., menghendaki iklim panas dengan curah hujan antara 300 – 500 mm sinar matahari yang cukup dengan suhu 25 – 30 °C.
Manfaat Kenanga (Cananga odorata). Tanaman Kenanga dimanfaatkan terutama bunganya. Bunga kenanga yang bearoma wangi dan harus dengan baunya yang khas dapat disuling menjadi parfum dan bahan kosmetika lainnya. Bahkan sejak dahulu telah dipergunakan sebagai pengharum tubuh, rambut, pakaian maupun ruangan.
Bunga Kenanga bersama Melati dan Mawar digunakan sebagai bunga tabur saat berziarah. Juga sering digunakan dalam berbagai upacara adat di berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu bunga Kenanga ternyata juga telah dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang mempunyai khasiat untuk obat pembersih sehabis melahirkan, obat sesak nafas dan bronkhitis, serta obat malaria.
Kebetulan di halaman rumah saya menanam sebatang pohon Kenanga Perdu (Cananga odorata fruticosa). Meski aroma bunganya kalah wangi dan menyengat dibanding Kenanga biasa, namun aromanya yang khas sering tercium bahkan hingga ke dalam ruang tamu. Tertarik untuk menanam pohon yang menjadi flora identitas Sumatera Utara ini dan menikmati aroma wanginya yang khas?.

Sumber: https://alamendah.org/2011/03/05/kenanga-cananga-odorata-bunga-khas-sumatera-utara/

Beo Nias



 
Beo Nias dan Beo Medan
Beo Medan dan beo Nias sepintas sulit dibedakan karena besarnya sama. Begitu pula warna bulunya yang hitam mengkilat dan bentuk paruhnya yang besar kekuning-kuningan. Cuping kedua beo itu menyatu di belakang kepala dan bentuknya menggelambir. 
  • Kalau beo Nias warna cuping kuduknya kuning muda, 
  • sebaliknya beo medan kuning tua. 
  • Suara beo Nias lebih keras bunyinya dibanding beo Medan.
Burung beo Medan dan beo Nias memang hampir sama secara fisik tubuh, yaitu berbulu hitam dan terdapat tanda kuning di sekitar kelopak mata. adapun yang membedakannya hanya dapat diketahui dari variasi suaranya yang menunjukkan "kecerdasannya". 
Beo Nias pada umumnya dianggap lebih cerdas dan oleh sebab itulah memiliki suara yang lebih banyak dan mudah dilatih menghafalkan suara-suara yang didengarnya, termasuk yang diberikan dalam latihan rutin oleh pengasuh/pemiliknya.

Ciri-Ciri Khusus beo nias adalah
  • Jari berwarna kuning berjumlah 4
  • Punya gelambir di belakang kepala yang menyatu
  • punya warna putih sedikit di bagian sayap.
  • patuh berwarna kuning seperti kaki
  • Ciri utama beo Nias dibandingkan dengan beo lokal lain adalah :
    • Fisik lebih besar dan ukuran kepala juga sangat besar.
    • Warna bulu jauh lebih cerah 
Sumber:  http://beoburung.blogspot.co.id/2014/07/info-beo-nias-dan-ciri-ciri-khususnya.html

Burung Murai

 

Bagi para pencinta burung Murai Batu dalam memeliharanya tidak selalu mencari burung yang telah dewasa. Akan tetapi burung Murai Batu yang anakan atau trotolan juga banyak digandrungi oleh para kicau mania. Alasan pemilihan burung Murai Batu trotolan terbilang cukup beragam yang di antaranya harganya tidak semahal burung yang telah dewasa. Selain itu, dengan membeli burung Murai Batu yang masih anakan dianggap lebih mudah melatihnya sehingga mampu menguasai banyak variasi suara kicauan. Akan tetapi dalam memelihara burung Murai Batu trotolan dibutuhkan waktu yang tidak sedikit setiap harinya untuk memastikan kondisi kesehatan dan pemasteran kicauannya berjalan dengan baik.

Nah, merawat burung Murai Batu trotolan memang membutuhkan waktu yang lumayan banyak dan kerja keras yang tinggi dari pemiliknya. Hal ini dikarenakan burung Murai Batu trotolan butuh terus dipantau tentang kecukupan pakannya, penghangat di kandang atau sangkar, vitamin, memandikan dan penjemuran, dan pemasteran kicauannya. Untuk itu sebelum memelihara burung Murai Batu trotolan tentunya dapat bertanya pada diri tentang kesediaan bisa fokus merawatnya sampai remaja dan dewasa. Karenanya memang tidak banyak yang ingin memelihara burung Murai Batu trotolan sebab dihadapkan akan takutnya tidak ada waktu dalam merawatnya dan mengakibatkan burung trotolan mengalami kematian.

Memelihara burung Murai Batu trotolan dapat dengan memberikan perawatan harian mulai pakan sampai dengan penjemurannya. Dalam merawat burung Murai Batu trotolan mesti menyediakan pakan yang bermutu seperti jangkrik, kroto, ulat, dan voer. Pemberian pakan kepada burung Murai Batu trotolan mesti tetap dipantau karena porsi makannya terbilang agak banyak dibanding yang dewasa. Dengan memberikannya variasi pakan secara bertahap dapat memudahkannya untuk mengenal beragam jenis pakan mulai sejak kecil. Karena semua jenis pakan yang disantapnya itu mempunyai khasiat untuk menjaga kesehatan fisiknya dan menumbuh kembangkan otaknya dalam mengingat banyak suara kicauan.


Gambar: Murai Batu trotolan

Selain itu, penting pula memperhatikan waktu penjemuran dan memandikan burung Murai Batu trotolan. Waktu memandikan dan penjemuran kepada burung Murai Batu trotolan mesti dilakukan secara rutin setiap harinya. Ditambahkan pula dengan memberikannya pengembunan di waktu sekitar jam 5 sampai 6 pagi. Dan tak lupa tetap memberikannya multi vitamin tambahan agar tidak mudah terserang penyakit saat menghadapi cuaca yang tidak menentu.

Sedangkan pemasteran yang dapat diajarkan kepada burung Murai Batu trotolan mesti memperhatikan tingkat usianya. Biasanya burung Murai Batu trotolan yang baru pertama kali diajarkan untuk mengenal suara kicauan berusia sekitar 1 bulan. Pada usia satu bulan suara kicauan yang diperdengarkan kepada burung MB trotolan berupa suara burung pemakan buah-buahan seperti pleci, keluarga burung madu, dan gelatik. Dengan rutinnya memperdengarkan suara kicauan kepada burung Murai Batu trotolan dapat memancingnya mengeluarkan suara kicauan.

Selanjutnya, saat usia burung sudah menginjak 2 bulan atau lebih dapat memancingnya dengan memutarkan suara kicauan dari burung kenari, tengkek, ataupun ciblek. Burung Murai Batu yang sudah diperdengarkan banyak suara kicauan dari ragam jenis burung berbeda membantunya untuk memperkaya suara isiannya. Selain itu, dengan memaster burung Murai Batu dari usia muda atau trotolan membantunya untuk mengeluarkan suara asli saat sudah menginjak usia dewasa.

Memaster burung Murai Batu trotolan jangan terhenti hanya pada saat usianya sudah menginjak dua atau tiga bulan. Akan tetapi saat burung Murai Batu mulai beranjak remaja tetap prosesi pemasteran dilangsungkan dengan rutin melatih kicauannya dari memperdengarkan suara kicauan burung yang mempunyai suara tembakan khusus. Ataupun secara langsung mendekatkan burung Murai Batu trotolan yang sudah sering dilatih dengan burung ocehan lainnya agar mentalnya juga terlatih.

Yup, itulah uraian singkat mengenai burung Murai Batu trotolan yang butuh perawatan harian dan juga memaster suaranya. Dari membaca artikel ini membuat kita tahu bahwa memelihara burung Murai Batu trotolan bukanlah persoalan yang mudah. Akan tetapi bila dilakukan dengan serius maka Murai Batu trotolan tersebut menjelma menjadi burung kicauan yang sangat siap tempur saat diikutkan dalam ajang kontes burung ocehan.
Sumber:  http://www.muraibatu.link/

Bunga Cempaka





 
Cempaka wangi adalah pohon hijau abadi besar yang bunganya berwarna putih atau kuning. Bunganya sudah dikenal luas sebagai sumber wewangian dari pohon cempaka itu. Pohon  bunga cempaka ini ditemukan dibenua India dan Asia Tenggara. Kayu dari pohon ini biasanya digunakan untuk penghias taman. Bijinya terbungkus oleh salut biji yang disukai burung. Bunga cempaka wangi ini menjadi bunga identitas untuk provinsi Aceh, di sana dikenal sebagai Bungong Jeumpai Gadeng.
Dalam percakapan sehari-hari yang dimaksud dengan cempaka biasanya adalah cempaka wangi ini. Nama “cempaka” di ambil dari bahasa sansekerta. Nama-nama dalam berbagai bahasa di India juga memiliki nama bermiripan, seperti champac, sonchaaphaa, atau sampangi.
Terdapat suatu varietas botani asal Asia Tenggara bernama M. Champaca var. Pubinervia (Blume) Figlar et Noot.
Kegunaan dari bunga cempaka wangi
Bunga cempaka wangi melepaskan aroma yang sangat harum. Bunga yang masih kuncup biasanya menjadi hiasan rambut pengantin atau diletakkan pada mangkuk berisi air sebagai pengharum ruangan. Aroma dari bunga cempaka wangi ini juga di gunakan untuk komponen utama salah satu parfum dari perancis, Joy.
Pohon cempaka biasanya ditanam di pekarangan rumah, kuil atau di daerah pemakaman. Karena asosiasi dengan atempat-tempat suci, pohon cempaka wangi sering dianggap sebagai pohon keramat.
Di Jawa pohon cempaka wangi biasanya dikenal dengan nama kembang Kantil, karena sering dipakai pada acara-acara pernikahan serta wanginya yang membuat orang yang tercium aromanya terasa tertarik. Yang banyak tumbuh di Jawa juga cempaka putih. Bunga cempaka kuning sudah jarang ditemukan di Jawa. 
Cara budi daya dan pelestaria pohon bunga cempaka wangi
Pohon bunga cempaka wangi dapat diperbanyak dengan cangkok atau dengan menumbuhkan bijinya. Hasil persilangan dengan M. Montana menghasilkan cempaka putih atau kantil putih (Michelia xalba).